Feeds:
Pos
Komentar

Inspirasi Gambar      : Hadrat Syaikh M. Irfa’i Nahrawi QS

Gambar dilukis oleh :  Ridwan Munaji

Diedit oleh                  : Gus Ruhullah Taqi  Murwat

Lukisan Pohon

Mampukah Saudaraku memahami gambar ini?

Lukisan ini dapat dipesan secara khusus. 

di dalamnya penuh filosofi yang tinggi.

Khidmah Syaikh Khalid

 

Berkhidmah bersama Syaikh Khalid Al Bagdadi

 

(Naqsyabandie Gen Story) 

Oleh WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH

Nama lengkapnya Raja Ali Kelana bin Sultan Muhammad Yusuf al-Ahmadi (Yamtuan Muda ke-10, 1858 Masihi – 1899 Masihi) bin Raja Ali (Yamtuan Muda ke-8, 1844 Masihi – 1857 Masihi) bin Raja Jaafar (Yamtuan Muda ke-6, 1808 Masihi – 1832 Masihi) bin Raja Haji asy-Syahidu fi Sabilillah (Yamtuan Muda ke-4, 1777 Masihi – 1784 Masihi) bin Upu Daeng Celak (Yamtuan Muda ke-2, 1729 Masihi – 1746 Masihi). Daripada nama-nama tersebut dapat disimpulkan bahawa lima orang Yamtuan Muda mulai ayah hingga ke atas adalah pertalian lurus pada Raja Ali Kelana. Raja Ali Kelana tidak sempat menjadi Yamtuan Muda kerana kerajaan Riau-Lingga dimansukhkan oleh penjajah Belanda dan sultan terakhir Sultan Abdur Rahman Muazzam Syah, adik beradik dengan Raja Ali Kelana hijrah ke Singapura (1911 Masihi)…….

Mau tahu sejarah lanjutannya, click:

Raja Ali Kelana – Ulama pejuang Riau dan Johor 

Dimoderasi oleh: Dedy Purnawan 

Untuk menambah wawasan kita bahwa Naqsyabandie

telah sangat meluas di seluruh dunia.

Bukan hanya di Indonesia saja, bukan hanya di Jogja dan Ciamis saja.

Alhamdulillah, kita menjadi salah satu bagian besar tersebut.

Berikut Fatwa tentang Perbankan yang dikeluarkan oleh Dar Al-Ifta’ al-Masriyya:

Bank Interst (Arabic)

Yang dipublikasikan oleh ASFA,

As-Sunnah Foundation of America,

(Kalau ditempat kita FORSTASS dan FORTAA) 

yang dipimpin oleh :

Shaykh Muhammad Hisham Kabbani

Pendidikan Beliau:

§ Bachelor’s Degree in Chemistry from the American University of Beirut, Lebanon.
§ Medical studies in Louvain, Belgium.
§ Degree in Islamic Divine Law, Damascus, Syria.
§ License to teach, guide and counsel students in Islamic spirituality from the renowned Shaykh Muhammad Nazim Adil, authority of the Hanafi school of Islamic law in the Middle East and world leader of the Naqshbandi Haqqani Sufi Order.

Mereka memiliki kesamaan visi dan misi, serta kesamaan adab, kebiasaan, dll…

Mengapa? Karena mereka memiliki Guru yang sama, dari

Rasulullah, Nabi Muhammad SAW

hingga

Syaikh Ismail Muhammad ash-Shirwani, qaddasa-l-Lahu sirrah

Marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan.

dengan barokah Para Guru,

Hadrat Syaikh M. Irfa’i Nahrawi An-Naqsyabandie QS. Salam,

Para Guru Naqsyabandie

Berikut adalah Silsilah Guru Dalam Tarekat Naqsyabandie, yang biasa disebut dengan The Golden Chain. Dari Allah, Malaikat Jibril, kemudian:

  1. Prophet Muhammad ibn Abd Allah, Salla Allahu `alayhi wa alihi wa sallam
  2. Abu Bakr as-Siddiq, radiya-l-Lahu`anh
  3. Salman al-Farsi, radiya-l-Lahu`anh
  4. Qassim ibn Muhammad ibn Abu Bakr
  5. Jafar as-Sadiq, alayhi-s-salam
  6. Tayfur Abu Yazid al-Bistami, radiya-l-Lahu canh
  7. Abul Hassan Ali al-Kharqani, qaddasa-l-Lahu sirrah
  8. Abu Ali al-Farmadi, qaddasa-l-Lahu sirrah
  9. Abu Yaqub Yusuf al-Hamadani, qaddasa-l-Lahu sirrah
  10. Abul Abbas, al-Khidr, alayhi-s-salam
  11. Abdul Khaliq al-Ghujdawani, qaddasa-l-Lahu sirrah
  12. Arif ar-Riwakri, qaddasa-l-Lahu sirrah
  13. Khwaja Mahmoud al-Anjir al-Faghnawi, qaddasa-l-Lahu sirrah
  14. Ali ar-Ramitani, qaddasa-l-Lahu sirrah
  15. Muhammad Baba as-Samasi, qaddasa-l-Lahu sirrah
  16. as-Sayyid Amir Kulal, qaddasa-l-Lahu sirrah
  17. Muhammad Baha’uddin Shah Naqshband, qaddasa-l-Lahu sirrah
  18. Ala’uddin al-Bukhari al-cAttar, qaddasa-l-Lahu sirrah
  19. Yaqub al-Charkhi, qaddasa-l-Lahu sirrah
  20. Ubaydullah al-Ahrar, qaddasa-l-Lahu sirrah
  21. Muhammad az-Zahid, qaddasa-l-Lahu sirrah
  22. Darwish Muhammad, qaddasa-l-Lahu sirrah
  23. Muhammad Khwaja al-Amkanaki, qaddasa-l-Lahu sirrah
  24. Muhammad al-Baqi bi-l-Lah, qaddasa-l-Lahu sirrah
  25. Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi, qaddasa-l-Lahu sirrah
  26. Muhammad al-Masum, qaddasa-l-Lahu sirrah
  27. Muhammad Sayfuddin al-Faruqi al-Mujaddidi, qaddasa-l-Lahu sirrah
  28. as-Sayyid Nur Muhammad al-Badawani, qaddasa-l-Lahu sirrah
  29. Shamsuddin Habib Allah, qaddasa-l-Lahu sirrah
  30. Abdullah ad-Dahlawi, qaddasa-l-Lahu sirrah
  31. Khalid al-Baghdadi, qaddasa-l-Lahu sirrah
  32. Abdullah Arzinjani

  33. Sulaiman Quraimi

  34. Sulaiman Zuhdi

  35. Muhammad Hadi

  36. Abdul Karim 

  37. KHR Nachrawi

  38. H.S.M. Irfa`I Nachrawi An-Naqsyabandie QS  

SEBUAH PEMIKIRAN UNTUK KAUMKU

Oleh: MR Hadrat Syaikh Muhammad Irfa’I Nahrawi An-Naqsyabandi QS

Abah bersama Tim Forstas

(Syaikh bersama Tim Forstass) 

Masalah ekonomi adalah masalah yang sangat mendasar dalam perikehidupan umat manusia. Karenanya manusia bisa menjadi syukur dan bisa pula menjadi kufur, mulia, ataupun hina. Masalah ini adalah titian umat manusia menuju kebahagiaan ataupun kesengsaraan. Masalah ekonomi merupakan tolok ukur kesuksesan ataupun kegagalan kehidupan umat manusia di bumi raya ini. Suatu bangsa dikatakan maju bila taraf perekonomiannya mengalami kemajuan. Dikatakan terbelakang bila taraf perekonomian terpuruk.

Berapa lama bangsa Indonesia dilanda kepahitan hidup yang amat dahsyat, dimulai dari krisis ekonomi yang ditandai dengan beban hutang luar negeri yang sangat besar. Mau tidak mau hal ini akan di bebankan dipundak rakyat sampai kepada krisis Multidimensi. Himpitan yang sangat dahsyat ini, akhirnya meledak. Gaung reformasi menumbangkan pemerintahan lama berdirilah pemerintahan baru dengan tujuan akan menata kembali tatanan-tatanan yang tidak tepat dan dianggap sudah tidak kondusif terhadap cita-cita bangsa menuju kesentosaan hidup yang diliputi oleh sutra keadilan dan kemakmuran.
Berapa banyak usaha yang telah dilakukan oleh pakar-pakar ahli dari tokoh-tokoh bangsa, berapa banyak biaya yang telah dibelanjakan. Namun pada kenyataannya apa yang kita dapatkan? Ya, seperti apa yang kita saksikan. Bom meledak dimana mana, demontrasi dari berbagai kalangan, penjarahan-penjarahan hutan yang tak teratasi sampai hari ini. Keluhan rakyat membahana laksana kicauan beburung dirimba, ada yang bilang pasarnya sepi, bayar sekolah mahal, penghasilan menurun, kebutuhan semakin membengkak, lebih parah lagi senasib dengan negaranya tertimbun hutang yang menggunung………………………………

more :   Sebuah Pemikiran untuk Kaumku

Download File Artikel Lengkap : Jilbab Bagi Wanita Muslimah

حجاب المرأة المسلمة

قال الله تعالى

يا أيها النبي قل لأزواجك و بناتك و نساءالمؤمنين يد نين عليهن ذلك ادنى ان يعرفن ذ لك أدنى أن يعرفن فلا يؤذين وكان الله

غفور رحيم  (الاحزاب: )59

 

“Wahai Nabi katakanlah pada istri-istrimu, putri-putrimu dan perempuan-perempuan orang yang beriman agar ia menurunkan (menguraikan) jalbab mereka, karena hal yang demikian itu, agar lebih mudah (pr) dikenal. Maka dia akan selamat dari gangguan dan Allah Maha Pengampun Dan Penyayang” (surat al-Ahzab: 59)

——————————————————————————————

Kajian Masalah Riba

Secara hukum riba adalah suatu bentuk mu’amalah yang diharamkan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an, Rasulullah dalam al- Hadits serta disepakati para fuqoha’ (ahli hukum islam) dan tentunya hal ini tidak diingkari oleh kaum mu’minin kecuali mereka yang lemah imannya.
Bahkan seluruh umat manusia pasti akan bersyukur atas larangan ini apabila mengerti dan paham terhadap riba dan akibat yang menimpanya. Maha Benar Allah dengan rahmat kasih sayang-Nya telah menyelamatkan umat manusia dari ancaman-ancaman riba yang dapat mengakibatkan kerusakan jiwa pelakunya.
Oleh karena itu agar dapat terhindar dari akibat-akibat buruk tersebut, marilah kita memahami riba secara komprehensif (menyeluruh).

Untuk lebih jelasnya tentang masalah Riba, silakan download file kami berikut:

Kajian Masalah Riba

KAJIAN MASALAH RIBA
Oleh: Tim FORSTAS

J. BANK SYARIAH SEBAGAI LEMBAGA KEUANGAN YANG

MENGACU PADA SYARIAT ISLAM

 a. Tujuan, Sistem, Prinsip, Piranti Keuangan Bank Syariah
Pada dasarnya operasi Bank Syariah (Bank Islam) tidak jauh berbeda dengan bank konvensional (bank komersil/umum) yaitu sebagai lembaga perantara. Bank Syariah berperan sebagai lembaga perantara antara satuan-satuan kelompok masyarakat atau unit-unit ekonomi yang mengalami kelebihan dana dengan unit-unit lain yang mengalami kekurangan dana. Melalui bank kelebihan dana tersebut dapat disalurkan kepada pihak yang memerlukan dan memberikan manfaat kepada kedua belah pihak.
Bank berbasis bunga melaksanakan peran tersebut melalui kegiatannya sebagai peminjam dan pemberi pinjaman. Para pemilik dana tertarik untuk menyimpan dana di bank berdasarkan tingkat bunga yang dijanjikan. Demikian pula bank memberikan pinjaman kepada pihak-pihak yang memerlukan dana berdasarkan kemampuan mereka membayar tingkat bunga tertentu. Hubungan antara bank dengan nasabahnya adalah hubungan antara kreditur dengan debitur.
Berbeda dengan bank konvensional, hubungan antara bank syariah dengan nasabahnya bukan hubungan antara debitur dengan kreditur, melainkan hubungan kemitraan penyandang dana dengan pengelola dana. Oleh karena itu, tingkat laba bank syariah bukan saja berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil untuk para pemegang saham, tetapi juga berpengaruh terhadap bagi hasil yang dapat diberikan kepada nasabah penyimpan dana. Dengan demikian kemampuan manajemen untuk melaksanakan fungsinya sebagai penyimpan harta, pengusaha dan pengelola investasi yang baik akan sangat menentukan kualitas usahanya sebagai lembaga perantara dan kemampuannya menghasilkan laba.
Adapun prinsip-prinsip pokok yang menyebabkan antara bank umum dan syariah tidak sama adalah bahwa pemasukan bank syariah tidak berasal dari selisih tingkat bunga dari pembiayaan (kredit) yang disalurkan. Namun pemasukan itu tergantung dari usaha peminjaman (debitur).
Aktivitas keuangan dan perbankan dapat dipandang sebagai wahana bagi masyarakat modern untuk membawa mereka kepada, paling tidak, pelaksanaan dua ajaran Al Qur’an yaitu:
• Prinsip At Ta’awun, yaitu saling membantu dan saling bekerja sama di antara anggota masyarakat untuk kebaikan, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an :

“….dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketaqwaan, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (QS 5:2).

• Prinsip menghindari Al Iktinaz, yaitu menahan uang (dana) dan membiarkannya menganggur yang tidak berputar dalam transaksi yang bermanfaat bagi masyarakat umum, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al Qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu…” (QS 4:29).
Perbedaan pokok antara perbankan islam dengan perbankan konvensial adalah adanya larangan riba (bunga) bagi perbankan islam. Bagi islam riba dilarang, sedang jual beli (al bai’) dihalalkan.
Sejak awal dasarwarsa 1970-an, umat islam di berbagai negara telah berusaha untuk mendirikan bank islam. Tujuannya, pada umumnya, adalah untuk mempromosikan dan mengembangkan penerapan prinsip-prinsip syariat islam dan tradisinya kedalam transaksi keuangan dan perbankan serta bisnis lain yang terkait. Prinsip utama yang dianut oleh bank islam adalah:
• Larangan riba (bunga) dalam berbagai bentuk transaksi

• Menjalankan bisnis dan aktivitas perdagangan yang berbasis pada perolehan keuntungan yang sah menurut syariat dan memberikan zakat.
Islam memiliki hukum sendiri untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mendanai kegiatannya, yaitu melalui akad-akad bagi hasil, sebagai metode pemenuhan kebutuhan permodalan, dan akad-akad jual beli untuk memenuhi pembiayaan. Bank islam tidak menggunakan metode pinjam-meminjam uang dalam rangka kegiatan komersial karena setiap pinjam-meminjam uang yang dilakukan dengan persyaratan atau janji pemberian imbalan adalah termasuk riba. Oleh karena itu mekanisme operasional perbankan syariah dijalankan dengan menggunakan dengan piranti-piranti keuangan yang mendasarkan pada prinsip-prinsip berikut ini:
Prinsip bagi hasil:
1. Mudharabah
Yaitu bank memberikan modal, para nasabah bank memberikan keahlian mereka, sedangkan keuntungan dibagi menurut rasio yang disetujui.

Ada dua tipe mudharabah, yaitu mutlaqah (tidak terikat) dan muqayyadah (terikat).

• Mudharabah mutlaqah: pemilik dana memberikan keleluasaan penuh kepada pengelola untuk menggunakan dana tersebut dalam usaha yang dianggapnya baik dan menguntungkan pengelola bertanggung jawab untuk mengelola usaha sesuai dengan praktek kebiasaan usaha normal yang sehat (uruf).
• Mudharabah muqayyadah: pemilik dana menentukan syarat dan pembatasan kepada pengelola dalam penggunaan dana tersebut dengan jangka waktu, tempat, jenis usaha dan sebagainya. Pengelola menggunakan modal tersebut dengan tujuan yang dinyatakan secara khusus, yaitu untuk menghasilkan keuntungan.

2. Murabahah

Dengan operasi murabahah, para klien bank membeli satu komoditi menurut rincian tertentu dan menghendaki agar bank mengirimkannya pada mereka berdasarkan imbuhan harga teretentu menurut persetujuan mula antara kedua pihak.
3. Musharakah
Dengan musyarakah, baik bank maupun klien menjadi mitra usaha dengan menyumbang modal dalam berbagai tingkatan dan mencapai kata sepakat atas rasio laba dimuka untuk sesuatu waktu tertentu.
b. Prinsip Jual Beli (Al Bai’)

Pengertian jual beli meliputi berbagai akad pertukaran antara suatu barang dan jasa dalam jumlah tertentu atas barang dan jasa lainnya. Penyerahan jumlah atau harga barang dan jasa tersebut dapat dilakukan dengan segera ataupun secara tangguh. Oleh karenanya, untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan syarat-syarat Al Bai’ menyangkut berbagai tipe jual beli tangguh.
Akad berarti perikatan, perjanjian atau permufakatan. Setiap akad harus memenuhi unsur-unsur pokok (rukun akad), yaitu:
• Sighat (ijab qabul): ijab berarti pernyataan melakukan ikatan dan qabul berarti pernyataan menerima ikatan.
• Muta’aqidaani yaitu pihak-pihak yang berakad

• Ma’qud fiih (obyek akad).

 

Sebelum terjadi ikatan, masing-masing pihak boleh mengajukan syarat-syarat asalkan dapat diterima oleh akal sehat. Akad yang shahih (cukup rukun dan syaratnya) berlaku dan mengikat, sebaliknya akad yang tidak shahih (kekurangan rukun dan syaratnya) tidak berlaku dan tidak mengikat.
c. Macam-Macam Jual Beli
Dalam fiqh muamalah, telah diidentifikasi dam diuraikan macam-macam jual beli, termasuk jenis jual beli yang dilarang umat islam. Macam atau jenis jual beli itu antara lain:
1. Bai’ al mutlaqah yaitu pertukaran barang atau jasa dengan uang. Uang berperan sebagai alat tukar. Jual beli semacam ini menjiwai semua produk-produk lembaga keuangan yang didasarkan atas prinsip jual beli.
2. Bai’ al muqayyadah yaitu jual beli dimana pertukaran terjadi antara barang dengan barang (barter). Aplikasi jual beli semacam ini dapat dilakukan sebagai jaln keluar bagi transaksi eksport yang tidak dapat menghasilkan valuta asing (devisa). Karena itu dilakukan pertukaran barang dengan barang yang dinilai dalam valuta asing. Transaksi semacam ini lazim disebut counter trade.
3. Bai’ al sharf yaitu jual beli atau pertukaran antara satu mata uang asing dengan mata uang asing lain, seperti antara rupiah denga dolar, dolar dengan yen dan sebagaimya. Mata uang asing yang diperjual belikan itu dapat berupa uang kartal (bank notes) atau berupa uang giral (telegrafic transfer atau mail transfer).
4. Bai’ al murabahah adalah akad jual beli barang tertentu dalam transaksi jual beli tersebut penjual menyebutkan dengan jelas barang yang diperjual belikan, ternasuk harga pembelian dan keuntungan yang diambil.

5. Bai’ al musawamah adalah jual beli biasa, dimana penjual tidak memberi tahukan harga pokok dan keuntungan yang didapatnya.

6. Bai’ al muwadha’ah yaitu jual beli dimana penjual melakukan penjualan dengan harga yang lebih rendah daripada harga pasar atau dengan potongan (discount). Penjualan semacam ini biasanya hanya dilakukan untuk barang-narang atau aktifa tetap yang nilai bukunya sudah sangat rendah.
7. Bai’ as salam adalah akad jual beli dimana pembeli membayar uang (sebesar harga) atas barang yang telah disebutkan spesifikasinya, sedangkan barang yang diperjual belikan itu akan diserahkan kemudian, yaitu pada tanggal yang disepakati. Bai’ as salam biasanya dilakukan untuk produk-produk pertanian jangka pendek.
8. Bai’ al istishna’ hampir sama dengan bai’ as salam yaitu kontrak jual beli dimana harga atas barang tersebut dibayar lebih dulu tetapi dapat diangsur sesuai dengan jadwal dan syarat-syarat yang disepakati bersama, sedangkan barang yang dibeli diproduksi dan diserahkan kemudian.

Diantara jenis-jenis jual beli tersebut, yang lazim digunakan sebagai modal pembiayaan syariah adalah pembiayaan berdasarkan prinsip bai al murabahah, bai’ as salam dan bai’ al istishna’.

d. Prinsip Sewa dan Sewa-Beli

Sewa (ijarah) dan sewa-beli (ijarah wa iqtina’ atau disebut juga ijarah muntahiyah bi tamlik) oleh para ulama dianggap sebagai model pembiayaan yang dibenarkan oleh syariah islam. Al ijarah atau sewa adalah kontrak yang melibatkan suatu barang (sebagai harga) dengan jasa atau manfaat atas barang lainnya. Prinsip sewa dan sewa beli adalah sebagai berikut:
• Prinsip qard
Qard adalah meminjamkan harta kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Dalam literatur fiqih, qard dikategorikan sebagai akad tathawwu’, yaitu akad saling membantu dan bukan transaksi komersial.
Bank juga dapat menggunakan akad ini sebagai produk pelengkap untuk memfasilitasi nasabah yang membutuhkan dana talangan segera untuk jangka waktu yang sangat pendek.
• Prinsip al wadi’ah

Wadi’ah menurut bahasa adalah sesuatu yang diletakkan pada yang bukan pemiliknya untuk dijaga. Dengan demikian maka pengertian istilah wadi’ah adalah akad antara pemilik barang (mudi’) dengan penerima titipan (wadi’) untuk menjaga harta/modal (ida’) dari kerusakan atau kerugian dan untuk keamanan harta. Ada dua tipe wadi’ah, yaitu:
1. Wadi’ah yad amanah
Adalah akad titipan dimana penerima titipan adalah penerima kepercayaan, artinya ia tidak harus mengganti segala resiko kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada asset titipan, kecuali bila hal itu terjadi karena akibat kelalaian yang atau kecerobohan yang bersangkutan atau bila status titipan telah berubah menjadi wadi’ah yad dhamanah.
2. Wadi’ah yad dhamanah
Adalah akad titipan dimana penerima titipan adalah penerima kepercayaan sekaligus penjamin keamanan asset yang dititipkan. Penerima simpanan bertanggung jawab penuh atas segala kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada asset titipan tersebut.
e. Penggunaan Dana Bank Syariah
Alokasi penggunaan dana bank syariah pada dasarnya dapat dibagi dalam dua bagian penting dari aktifa bank yaitu:
1. Aktifa yang menghasilkan
2. Aktifa yang tidak menghasilkan
Aktifa yang menghasilkan adalah berupa infestasi dalam bentuk:
• pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil
• Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan
• Pembiayaan berdasarkan prinsip jual beli
• Penbiayaan berdasarkan prinsip sewa
Surat-surat berharga syariah dan infestasi lainnya
• Aktifa yang tidak menghasilkan terdiri dari:
• Aktifa dalam bentuk tunai
Aktifa dalam bentuk tunai terdiri dari uang tunai dalam vault, cadangan likuiditas yang harus dipelihara pada bank central, giro pada bank dan barang-barang tunai lainnya yang masih dalam proses penagihan.
Qard (pinjaman)
Pinjaman Qard al hasan adalah salah satu kegiatan bank syariah dalam mewujudkan tanggung jawab sosialnya sesuai dengan ajaran islam. Untuk kegiatan ini bank tidak memperoleh penghasilan karena bank dilarang untuk meminta imbalan apapun dari para penerima qard
Penanaman dana dalam aktiva tetap dan inventaris
Penanaman dana dalam bentuk ini juga tidak menghasilkan pendapatan bagi bank, tetapi merupakan kebutuhan bank untuk memfasilitasi pelaksanaan fungsi kegiatannya. Fasilitas ini terdiri dari bangunan gedung, kendaraan, dan peralatan lainnya yang dipakai oleh bank dalam rangka penyediaan layanan kepada nasabahnya.
Jadi sumber pendapatan bank syariah terdiri dari :
• Bagi hasil atas kontrak mudharabah dan kontrak musyarakah
• Keuntungan atas kontrak jual beli
• Hasil sewa atas kontrak ijarah dan ijarah wa iqtina, dan
• Fee dan biaya administrasi atas jasa-jasa lainnya
f. Sumber-Sumber Sana Bank Syariah
Pertumbuhan setiap bank sangat dipengaruhi oleh perkembangan kemampuannya menghimpun dana masyarakat, baik berskala kecil maupun besar dengan masa pengendapan yang memadai. Sebagai lembaga keuangan, masalah bank yang paling utama adalah dana. Tanpa dana yang cukup, bank tidak dapat berbuat apa-apa, atau dengan kata lain bank menjadi tidak berfungsi sama sekali.
Dana adalah uang tunai yang dimiliki atau dikuasai oleh bank dalam bentuk tunai, atau aktiva lain yang dapat segera diubah menjadi uang tunai. Uang tunai yang dimiliki atau dikuasai oleh bank tidak hanya berasal dari pemilik bank itu sendiri, tapi berasal dari titipan atau penyertaan dana orang lain atau pihak lain yang sewaktu-waktu atau pada satu saat tertentu akan ditarik kembali, baik sekaligus ataupun secara berangsur-angsur.
Sumber dana bank syariah terdiri dari:
1. Modal inti
Adalah dana modal sendiri, yaitu dana yang berasal dari para pemegang saham bank, yakni pemilik bank. Modal inti terdiri dari:
• Modal yang disetor oleh para pemegang saham, hal ini dikarenakan sumber utama dari modal perusahaan adalah saham.
• Cadangan, yaitu sebagian laba bank yang tidak dibagi, yang disisihkan untuk menutup timbulnya resiko kerugian dikemudian hari.
• Laba ditahan, yaitu sebagian laba yang seharusnya dibagikan kepada para pemegang saham, tetapi oleh para pemegang saham sendiri (melalui rapat umum pemegang saham) diputuskan untuk ditanam kembali dalam bank.
2. Quasi ekuitas (mudharabah account)
Bank menghimpun dana bagi hasil atas dasar prinsip mudharabah, yaitu akad kerja sama antara pemilik dana dengan pengusaha untuk melakukan suatu usaha bersama, dan pemilik dana tidak boleh mencampuri pengelolaan bisnis sehari-hari. Keuntungan yang diperoleh dibagi antar keduanya dengan perbandingan yang telah disepakati sebelumnya. Kerugian finansial menjadi beban pemilik dana, sedangkan pengelola tidak memperoleh imbalan atas usaha yang dilakukan.
Berdasarkan prinsip ini, dalam kedudukannya sebagai pengusaha, bank menyediakan jasa bagi para investor berupa:

• Rekening investasi umum
• Rekening investasi khusus
• Rekening tabungan mudharabah

3. Titipan (wadi’ah) atau simpanan tanpa imbalan
Dana titipan adalah dana pihak ketiga yang dititipkan pada bank, yang umumnya berupa giro atau tabungan. Motivasi utama orang menitipkan dana pada bank adalah untuk keamanan dana mereka dan memperoleh keleluasaan untuk menarik kembali dananya sewaktu-waktu.

Rukun Islam

Kajian tentang Rukun Islam

Oleh : Tim FORSTAS

Telah disebutkan didalam hadist Nabi SAW :
“Sesungguhnya rukun Islam itu ada lima perkara.

Rukun Islam yang pertama:
mengucap dua kalimat syahadat, jelasnya mengucap:
اشهد ان لااله الا الله و اشهد محمدا رسول الله
“ Saya bersaksi dan meyakini sesungguhnya tidak ada Tuhan yang disembah dengan sebenarnya kecuali Allah SWT yang pasti ada-Nya dan mustahil tidak ada-Nya, yang menjadikan tujuh langit dan tujuh bumi dan menguasai semua makhluk.”

و اشهد ان محمدا رسول الله
“dan sesungguhnya Nabi Muhammad bin ‘Abdullah itu menjadi utusan Allah SWT, di utus kepada semua manusia, jin dan malaikat untuk menyampaikan ilmu Syari’at, Thoriqot dan Hakikat, yaitu rukun Islam, Iman dan Ikhsan.”

Kedua : Mendirikan sholat lima waktu yang sesuai dengan Syarat dan rukunnya.
Ketiga : Memberikan zakat kepada fakir miskin.
Keempat : Puasa di bulan suci Ramadhan sesuai dengan syarat dan rukunnya.
Kelima : Pergi ke Baitullah yang mulia karena haji dan umroh dengan cukup syarad rukunnya serta cuktp bekal pergi dan pulangnya.

A. Mangucap dua kalimat syahadah.
Dua kalimat syahadat adalah Dua perkataan pengakuan yang diucapkan dengan lisan dan dibenarkan oleh hati untuk menjadikan diri orang Islam.
Lafadz kalimat syahadat ialah:

اشهد ان لااله الا الله و اشهد ان محمدا رسول الله
“Aku bersaksi dan meyakini sesungguhnya
tidak ada Tuhan yang di sembah dengan sebenarnya kecuali Allah.
Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”

Jika seorang yang bukan Islam menucapkan dua kalimat Syahadat dengan sungguh-sungguh, yakni membenarkan dengan hati apa yang ia ucapkan, serta mengerti apa yang diucapkan maka masuklah ia kedalam agama Islam, dan wajiblah ia mengerjakan rukun yang lima.
Dua kalimat syahadat masing-masing adalah:
1. Syahadat Tauhid:
اشهد ان لااله الا الله
Artinya :”Saya bersaksi tiada Tuhan yang disembah kecuali Allah”
2. Syahadat Rasul:
و اشهد محمدا رسول الله
ِArtinya: “dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”

Bagi orangyang akan masuk Agama Islam, dua kalimat syahadat ini harus diucapkan bersama-sama(berturut-tururt) tidak boleh dipisah-pisahkan.
Orang yang tidak dapt mengucapkan dengan lisan karena bisu atau udzur lainya, atau karena ajal telah mendahuluinya padahal hatinya telah beriman, mereka itu mukmin dihadapan Allah dan akan selamat kelak di hari kemudian.*
Mengucapkan dua kalimah syahadat adalah syarat yang pertama dari syarat-syarat Islam, yakni bagi setiap orang yang berakal, balig, mampu berbicara, mampu mengucapkn syahadat. Sesungguhnya tidak ada yang disembah dibumi dan di langit kecuali Allah Swt. Allah wajib adanya dan Allah Zat Yang Maha Luhur dan Maha Agung dari sesuatu yang menyekutukan-Nya, semua ini wajib kita ikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati, begitu juga mengikrarkan dan membenarkan terhadap Nabi Muhammad bin Abdillah sebagai utusan Allah kepada semua mahluk
Semua sifat-sifat wajib, mustahil, jaiz bagi Allah dan Rosul telah tercakup dalam dua kalimah syahadat. Inilah yang di namakan syahadat tauhid dan syahadat rosul.
Analisa syahadat :
1. Rukun syahadat
a. Syahidun.
b. Mashudun lahu.
c. Mashudun alih
d. Mashudun bihi
e. Syighot.
Dari segi yang lain dikatakan pula :
a. Menetapkan zatullah .
b. Menetapkan segala sifat Allah
c. Menetapkan segala perbuatan Allah
d. Menetapkan dan membetulkan kebenaran Rosullah SAW
2. Fardu Syahadat
a. Di ikrarkan dengan lisan
b. Ditasdiqkan dengan hati.
3. Syarat sah syahadat
a. Diketahui denagan pengetahuan yang pasti.
b. Di tetapkan dengan lesan.
c. Distasdiukkan didalam hati, dengan tadiq yang pasti.
d. Dikerjakan dengan segala anggota yang lahir dan batin.
4. Kesempurnaan Syahadat.
a. Mengetahui denagan hati
b. Ditetapkan dengan lesan
c. Dibenarkan oleh hati
d. Diyakinkan dengan hati, apa yang telah diketahui dari yang hak.
5. Yang merusakan syahadat.
a. Menduakan Tuhan
b. Syak hati kepada Tuhan.
c. Menyangkal hati akan apa yang dijadikan Tuhan
d. Tidak menisbatkan, serta tidak menetapkan Zat Allah SWT2 .

B. Mendirikan Shalat lima waktu
Setiap mukallaf berkewajiban mengerjakan apa-apa yang telah diperintahkan oleh Allah diantaranya ialah mengerjakan sholat setiap hari lima kali, dan telah dijelaskan pula didalam beberapa hadits Nabi tentang waktu- waktunya. Di samping itu wajib melaksanakan rukun dan syarat-syaratnya. Serta menjauhi dari perkara yang membatalkanya, dan wajib memerintahkan atas orang yang meninggalkan wajib dan rukun shalat atau mengerjakan syarat dan rukunya tapi tidak menetapi aturanya contohnya seperti mengerjakan rukuk, sujud tanpa menegakan tulang rusukya. Firman Allah SWT:

ان الصلاة كانت على المؤمنين كتابا موقوتا
Artinya : Sesungguhnya shalat itu adalah suatu kewajiban yang berwaktu atas kaum mukminin (QS An-Nisa:103)”
ٍٍٍ
Shalat maknanya adalah doa bagi manusia dan istigfar bagi malaikat dan Rohmat dari Allah SWT.
Dan menurut syara’ shalat adalah suatu perbuatan yang dimulai dengan takbir iftitah yaitu dengan mengangkatkan kedua tangan sampai kedua telinga dan diakhiri dengan salam ke kanan dan ke kiri3.
1. Syarat-syarat Wajib Shalat
Adapun syarat wajib shalat 4:
1. Islam
2. Balig
3. Berakal sehat
2. Syarat-syarat Shalat5
a. Mengetahui tentang masuknya waktu
b. Suci dari hadats kecil dan besar
c. Suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis yang kelihatan.
d. Menutup aurat
e. Menghadap kiblat

3. Rukun-rukun Shalat :5
1. Niat
2. Takbiratul ihram
3. Berdiri pada shalat fardhu
4. Membaca al-Fatihah
5. Rukuk
6. Bangkit dari rukuk dan berdiri lurus(I’tidal) dengan tuma’ninah.
7. Sujud
8. Duduk yang akhir sambilmembaca tasyahud
9. memberi salam.

4. Waktu-waktu shalat
Adapun waktu-waktu salat adalah sebagi beikut
Dzuhur : waktu dzuhur dimulai dari tergelincirnya matahari sampai bayang-bayang sesuatu sama panjangnya dengan sesuatu itu. Apabila lebih, walaupun hanya sedikit, berarti waktu dzuhur telah habis.
Ashar : waktu ashar dimulai dari lebihnya bayang-bayang sesuatu dengan benda tersebut sampai terbenamnya matahari.
Hadits Nabi Saw:
وقت العصر مالم تغرب الشمس) رواه مسلم(
“ Waktu Sholat Ashar selagi matahari belum tengelam.”
Magrib : waktu magrib dimulai dari hilangnya sinar matahari sampai hilangnya cahaya merah diarah barat
Hadits Nabi Saw:

وقت صلاة المغرب مالم تغب الشفق) رواه مسلم(
“Waktu Sholat Magrib adalah selagi belum hilang mega”

Isya : waktu isya dimulai dari habisnya waktu magrib samapi terbinya fajar shodik
Hadits Nabi Saw:
الشفق الحمرة فاذا غاب الشفق
“Syafaq yang merah apabila telah hilang”
Subuh : waktu shubuh dimulai dari fajar Shodik sampai terbitnya matahari
Hadits Nabi Saw:
وقت صلاة الصبح من طلوع الفجر مالم تطلع الشمس
“Waktu Shalat Subuh adalah mulai dari terbitnya fajar shodiq,
selagi matahari belum keluar.”
C. Membayar zakat
Zakat menurut bahasa at thoharoh (mensucikan)
Sedangkan menurut istilah syara’Zakat adalah mengeluarkan sebagian dari harta yang telah sampai nisab.
Pada dasarnya zakat terbagi kedalam dua bagian yaitu zakat: Zakat harta benda dan zakat badan. Dan zakat tidak sah mengeluarkanya kecuali dengan niat.
Dan zakat diberikan kepada orang muslim yang telah disebutkan dalam Alquranul karim.
انما الصدقات للفقرأ و المساكين والعاملين عليها والمؤلفة قلوبهم وفى الرقاب والغارمين وفى سبيل الله وابن السبيل . واذا لم يوجدوا كلهم تصرف الى الموجود منهم فقط
Artinya: “Sesaungguhnya zakat itu hanya untuk orang-orang fakir,miskin,pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang,untuk jalan Allah dan orang-orang dalam perjalanan,sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah,dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana. (QS At-Taubah: 60)

Di dalam kitab mazhabhibul Arba’ah harta yang wajib dizakati adalah :
1. Emas dan perak
Para ulama fiqh berpendapat mas dan perak wajib dizakati jika cukup nisabnya. Menurut pendapat mereka, nisab emas adalah 20 mitsqal. Nisab perak adalah 200 dirham. Mereka juga memberi syarat yaitu berlalunya waktu 1 tahun dalam keadaan nisab, juga jumlah yang wajib dikeluarkan 2,5 %.
2. Harta dagangan
Yang dinamakan harta dagangan adalah harta yang dimiliki dengan akad tukar dngan tujuan untuk memperoleh laba, dan harta yang dimilikinya adalah harus merupakan hasil usahanya sendiri. Dan zakat yang dikeluarkan itu adalah dari nilai barang-barang yang diperdagangkan. Jumlah yang dikeluarkankan adalah 1/40%, artinya 1 dari 40.
3. Binatang ternak
Ulama mazhab sepakat bahwa binatang yang wajib dizakati adalah Unta, Sapi, termasuk Kerbau, Biri-biri dan Kambing Gibas. Mereka sepakat bahwa binatang seperti Kuda, keledai, dan Baghal (hasil kawin silang antara Kuda dan Keledai).tidak wajib di zakati.

Nisab Zakat Binatang Ternak
Jenis hewan Jumlah Dikeluarkan zakatnya
Unta 5 ekor 1 ekor kambing
Sapi 30 ekor 1 ekor tabi` (sapi yang berumur 1 tahun penuh dan masuk ke tahun ke-2)
Kambing 40 ekor 1 ekor kambing

4. Tanaman dan buah-buahan.
Semua ulama fiqh sepakat bahwa jumlah (kadar) yang wajib dikeluarkan dalam zakat tanaman dan buah-buahan adalah 1/10 atau 10%. Kalau tanaman dan buah-buahan tersebut disiram air hujan atau air dari aliran sungai. Tapi jika air yang dipegunakannya dengan air irigasi (dengan membayar) dan sejenisnya, maka cukup megeluarkan 5%.7
Zakat fitrah juga dinamakan zakat badan. Zakat fitrah ini diwajibkan kepada setiap orang islam yang kuat,baik tua maupun muda. Maka bagi wali anak kecil dan orang gila wajib mengeluarkan hartanya serta memeberikanya pada orang-orang yang telah dijelaskan dalam surat At-Taubah ayat:80.8
Puasa
Puasa menurut bahasa adalah menahan dan menurut istilah yaitu menahan dari perkara-perkara yang membatalkan mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.
Megerjakan puasa pada bulan Romadhan merupakan salah satu rukun dari beberapa rukun agama. Kewajiban untuk melaksanakannya tidak membutuhkan dalil dan orang yang mengingkarinya berarti telah keluar dari Islam, karena ia seperti sholat, yaitu ditetapkan dengan keharusan. Dan ketetapan itu diketahui oleh orang dewasa maupun anak-anak. Dan berpuasa harus sesuai syarat dan rukunnya. Puasa satu bulan secara sempurna pada bulan yang mulia Ramadhan.
Puasa mulai diwajibkan pada buln Sya`ban, tahun ke-2 Hijriyah. Puasa meupakan fardu `ain bagi setiap mukallaf dan tak sorangpun diperbolehkan berbuka kecuali mempunyai sebab-sebab sebagai berkut :
1. Haid dan nifas
2. Sakit
3. Wanita hamil yang hampir melahirkan, dan wanita yang sedang menyusui
4. perjalanan yang sesuai dengan syarat-syarat yang dibolehkan melaksanakan syarat qosor.9
5. Orang tua renta, baik laki-laki maupun perempuan,yang mendapatkan kesukaran, serta tidak kuat lagi puasa.

Haji
Haji adalah pergi ke Baitullah yang mulia karena melaksanakan haji dan umroh dengan memenuhi syarat dan rukunnya serta mampu dan memiliki bekal saat pergi dan pulangnya.
Berangkat Haji wajib sekali seumur hidup dan tidak diwajibkan haji kecuali atas orang muslim, merdeka, berakal, baligh, dan sehat , dan mampu pergi dan pulangya dan memiliki bekal ketika pergi dan pulangnya.10