Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Naqsyabandie’ Category

Zahir, Tarekat, Hakikat & Marifatullah

Diterjemahkan dari bahasa Jerman

oleh : Dedy Alextro July 2008

Tulisan dengan bahasa Jerman ini ditulis dalam halaman akhir Al Quran (Berbahasa Jerman) terbitan Hakikat Yayincilik, Istambul Turkey. Al Quran ini diberikan kepada saya dengan tak disangka-sangka ketika saya berniat ingin mencari Bible untuk saya pelajari, tetapi bukan bible yang saya peroleh, tetapi mereka memberikan saya Al Quran dengan bahasa Jerman tersebut. Di halaman belakang Al Qur’an tertulis tulisan berikut:

Wissen der Zahir: Durch Lesen, Schreiben, und Lernen von ainem Lehrer erworbenes Wissen.

Pengetahuan zahir : Melalui membaca, menulis, dan belajar dari seorang guru mendapatkan pengetahuan.

Wissen der Tarikat : Tarikat ist der weg der anbetungen, der einzuschlagen ist, um Allah den erhabenen zu erkennen, zu finden und Ihm nahe zu kommen.

Pengetahuan Tarekat : Tarekat adalah jalan ibadah, pemukulan ke dalam, tentang Allah dengan khusuk ke arah pandangan yang jelas, untuk menemukan dan Dia tergambar dekat bahkan hadir.

Wissen der Hakikat : Das Wissen, das sich durch vereinigung von wissen der zahir und wissen der tarikat in einem menschen verwirklicht

Pengetahuan hakikat adalah : Pengetahuan, tentang diri melalui organisasi dari pengetahuan zahir dan pengetahuan tarekat dalam aktualisasi diri seseorang (menghasilkan inisiatif, jalan keluar, intuisi)

Wissen der Marifetullah : das wissen, das ohne erwerbung von Allah dem Allhöchsten gegeben wird.

Pengetahuan Marifetullah : pengetahuan, pemberian dari Allah sangat tinggi tanpa kemahiran (berusaha untuk mahir).

Das wissen des sufismus (tasawwuf) ist fast mit seinem ganzen Geheimnis enthüllt, eingehend erläutert. Mit der zeit werden wir es, so Allah will, in sprachen übersetzen und in der ganzen welt publizieren

Pengetahuan tasawuf adalah dekat dengan eksistensi keseluruhan rahasia terselubung, dijabarkan penjelasan. Dengan bertambahnya umur kita akan jatuh, maka Allah berkehendak, dalam firman yang diterjemahkan dalam keseluruhan dunia yang diciptakan.

Iklan

Read Full Post »

abah

 “Looking for Allah before You looking for everything”

Read Full Post »

Download Biografi lengkap : Biografi Syaikh Nachrawi.pdf

  Syaikh Nachrawi

K.H.R. Nachrawi  adalah putra pertama dari pasangan K.H. Abdullah dan Ibu Sulimah. Ia lahir di sebuah kampung yang jauh dari hiruk pikuk serta keramaian kota, tepatnya di kampung Terasan, Bandongan, Magelang, Karisidenan Kedu, Jawa Tengah pada tahun 1320 H/1900 M. Ia dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang religius yang begitu taat menjalankan ajaran agama. Ayahnya, K.H.  Abdullah, selain dikenal sebagai Mursyid Tarekat Syadzili di desa Terasan, Bandongan, Magelang juga pengasuh pondok pesantren. Ia dikenal sebagai penggerak pembangunan masjid-masjid untuk mengembangkan agama Islam. Selain itu ia adalah tokoh agama yang sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat sekitarnya  karena pribadinya yang baik  dan memiliki pergaulan yang luas dengan masyarakat.

K.H.R. Nachrawi merupakan seseorang yang terlahir dengan sosok cerdas atau biji yang baik dan hidup serta dibesarkan dengan pendidikan orang tuanya dalam lingkungan perjuangan penyebaran agama Islam dengan mendirikan masjid-masjid yang memang membentuk kepribadianya sebagai pejuang dan mendukung kemajuan keilmuan agamanya. Dia termasuk keturunan orang-orang pilihan, yakni dari kalangan keluarga terhormat dan turunan para kyai serta para Sayyid, juga masih keturunan ningrat atau darah biru dari Kerajaan Majapahit hingga Kerajaan Mataram. K.H.R.Nachrawi adalah putra K.H. Abdullah putra K Hambali putra K.R. Muhammad Gozali putra R. Ay. Muso putra R. Pangeran Hangabehi atau yang lebih dikenal dengan Kyai Nur Iman/R..M. Ihsan putra  Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Jawa di Kartasura, yang bersambung hingga Brawijaya V Raja Majapahit VII.

Dalam mengembangkan kethariqatan dan merealisasikan ajaran agama ia mengembangkannya masuk melalui pendekatan budaya dan membangun masjid-masjid serta pendekatan kepada masyarakat di daerah tersebut yang ahli dalam bidang agama, kemudian mengangkatnya sebagai kyai di daerah tersebut, dan pembentukan pola pikir jamaah sekitar masjid itu, sehingga mempunyai budaya dan adat istiadat tersendiri, maka nilai-nilai keislaman secara bertahap dapat diterima oleh masyarakat. Disamping itu juga didukung oleh kemampuannya dalam memanifestasikan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam bentuk kesenian sebagai suatu yang disenangi dan merupakan bagian dari kebutuhan dalam menerima ajaran tersebut.

Read Full Post »

Silsilah Nasabiyah

Keterangan :

A = Silsilah Nasabiyah dari Rasulullah SAW

B = Silsilah Nasabiyah dari Raja Majapahit

Read Full Post »

Tarekat

Sumber: Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amud al-mizalah).

Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahan pertolongan dari guru.

Pengertian diatas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham tasawuf. Pengertian itu dapat ditemukan pada Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naqsyabandiyah, Tarekat Rifa’iah, Tarekat Samaniyah dll. Untuk di Indonesia ada juga yang menggunakan kata tarekat sebagai sebutan atau nama paham mistik yang dianutnya, dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan paham tasawuf yang semula atau dengan tarekat besar dan kenamaan. Misalnya Tarekat Sulaiman Gayam (Bogor), Tarekat Khalawatiah Yusuf (Sulawesi Selatan) boleh dikatakan hanya meminjam sebutannya saja.

Read Full Post »

Tarekat Naqsyabandie

Sumber: Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Tarekat Naqsyabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebaran nya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim serta Turki, Bosnia-Herzegovina, dan wilayah Volga Ural.

Bermula di Bukhara pada akhir abad ke-14, Naqsyabandiyah mulai menyebar ke daerah-daerah tetangga dunia Muslim dalam waktu seratus tahun. Perluasannya mendapat dorongan baru dengan munculnya cabang Mujaddidiyah, dinamai menurut nama Syekh Ahmad Sirhindi Mujaddidi Alf-i Tsani (“Pembaru Milenium kedua”). Pada akhir abad ke-18, nama ini hampir sinonim dengan tarekat tersebut di seluruh Asia Selatan, wilayah Utsmaniyah, dan sebagian besar Asia Tengah. Ciri yang menonjol dari Tarekat Naqsyabandiyah adalah diikutinya syari’at secara ketat, keseriusan dalam beribadah menyebabkan penolakan terhadap cara yang menggunakan musik dan tarian, serta lebih mengutamakan berdzikir dalam hati, dan kecenderungannya semakin kuat ke arah keterlibatan dalam politik (meskipun tidak konsisten).

Kata Naqsyabandiyah/Naqsyabandi/Naqshbandi نقشبندی berasal dari Bahasa Persia, diambil dari nama pendirinya yaitu Baha-ud-Din Naqshband Bukhari. Sebagian orang menerjemahkan kata tersebut sebagai “pembuat gambar”, “pembuat hiasan”. Sebagian lagi menerjemahkannya sebagai “Jalan Rantai”, atau “Rantai Emas”.

Read Full Post »

 Doa Minta Hujan
Sebuah kisah penuh hikmah dizaman Shah Bahauddin Nashqband qs
Pada suatu saat musim kemarau panjang melanda Bukhara, orang -orang datang ke Qosrul Arifan untuk sowan kepada Shah Bahauddin Qs,
memohon berkah beliau untuk meminta hujan. Lalu shah Bahauddin Qs 
mengajak orang-orang untuk berjalan menyusuri lorong-lorong kota Bukhara, 
lalu bertemu dengan seorang ibu yang sedang menggendong bayi didekapannya
” Sudi kiranya Ibu menyusukan bayi anda” pinta Shah Bahauddin Qs
” Saya lebih tahu kapan saat menyusukan bayi ini” kilah sang ibu ” karena aku ibunya,
kenapa anda mesti repot-repot mengurus urusan yang anda sendiri tidak mengetahuinya”
Shah Bahauddin menyimpan kata-kata tersebut lalu disampaikan kepada khalayak prihal kejadian tersebut.
Sumber: Idris Shah

Read Full Post »

Older Posts »