Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2007

Komentar Imam Mazhab Tentang Thariqat Sufiyah

1. Imam Abu Hanifah RA:

Imam Abu seorang imam mazhab dari empat mazhab terkenal, ternyata juga seorang Mursyid Thariqah Sufi.

Diriwayatkan oleh seorang Faqih Hanafi al-Hashkafi, menegaskan, bahwa Abu Ali ad-Daqqaq ra, berkata, “Aku mengambil Thariqah sufi ini dari Abul Qasim an-Nashr Abadzy, dan Abul Qasim mengambil dari Asy-Syibly, dan Asy-Syibly mengambil dari Sary as-Saqathy, beliau mengambil dari Ma’ruf al-Karkhy, dan beliau mengambil dari Dawud ath-Tha’y, dan Dawud mengambil dari Abu Hanifah Ra.

Abu Hanifah dikenal sebagai Fuquha ulung, ternyata tetap memadukan antara syariah dan haqiqah. Dan Abu Hanifah terkenal zuhud, wara’ dan ahlu dzikir yang begitu dalam, ahli kasyf, dan sangat dekat dengan Allah Ta’ala, berkah Tasawuf yang diamalkannya.

Jika ada pertanyaan, kenapa para Mujtahidin itu tidak menulis kitab khusus mengenai Tasawuf, jika mereka mengikuti aliran Sufi?

Imam Asy-Sya’rany, Mujathid dan Ulama besar mengatakan, “Para Mujtahidun itu tidak menulis kitab khusus mengenai tasawuf, karena penyakit-penyakit jiwa kaum muslimin di zamannya masih sedikit. Mereka lebih banyak selamat dari riya’ dan kemunafikan. Mereka yang tidak selamat jumlahnya kecil. Hampir-hampir cacat mereka tidak tampak di masa itu. Sehingga mayoritas Mujtahidin di masa itu lebih konsentrasi pada bidang ilmu dan mensistematisir pemahaman pengetahuan yang tersebar di kota dan desa, dengan para Tabi’in dan Tabiit Tabi’in, yang merupakan sumber materi pengetahuan, sehingga dari mereka dikenal timbangan seluruh hukum, dibanding berdebat soal amaliyah qalbiyah sebagian orang yang tidak banyak muncul”.

2. Imam Malik Ra.

Beliau mengatakan soal tasawuf ini dengan kata-kata yang sangat popular hingga saat ini:

“Siapa yang bersyariat atau berfiqih tanpa bertasawuf, benar-benar menjadi fasiq. Dan siapa yang bertasawuf tanpa bersyariat (berfiqih) benar-benar zindiq. Siapa yang mengintegrasikan Fiqih dan Tasawuf benar-benar menapaki hakikat kebenaran.”

3. Imam Syafi’i Ra.

Beliau berkata: “Aku diberi rasa cinta melebihi dunia kalian semua: “Meninggalkan hal-hal yang memaksa, bergaul dengan sesama penuh dengan kelembutan, dan mengikuti thariqat ahli tasawuf.”

4. Imam Ahmad bin Hambal Ra.

Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)”

Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”

5. Imam Al-Muhasiby RA.

Abu Abdullah al-Harits Al-Muhasiby, wafat tahun 243 H, diantara karyanya adalah al-Luma’ dan Kitabul Washaya, yang sangat popular diantara kaum Sufi. Beliau pernah mengatakan berhubungan dengan perjuangan dirinya dalam mencapai wushul kepada Allah, melalui jalan Tasawuf dan tokoh-tokoh Sufi, “Amma Ba’du, sudah ada penjelasan, bahwa ummat ini terpecah menjadi tujupuluh lebih golongan Diantara golongan itu ada satu golongan yang selamat, Wallahu A’lam sisanya. Dan sepanjang usia saya, sering diperlihatkan perbedaan antara ummat. Saya mengikuti metode yang jelas dan jalan utama. Aku mencari ilmu dan amal. Saya menapak jalan akhirat melalui petunjuk para Ulama, dan saya memegang ayat Al-Qur’an melalui penakwilan para fuqoha’, dan aku merenungkan urusan ummat, dan menganalisa pandangan dan mazhabnya. Saya berfikir mengenai apa yang mampu, dan betapa banyak perbedaan yang begitu mendalam yang menenggelamkan banyak orang.

Hanya sekolompok manusia yang selamat. Saya melihat bahwa mereka berpendapat bahwa golongan merekalah yang selamat.

Setelah menggambarkan berbagai kelompok mazahab dan golongan, Al-Muhasiby mengatakan:

“Kemudian aku sangat mencintai mazhab kaum Sufi dan sangat banyak mengambil faedah dari mereka, menerima adab-adab mereka karena ketaatan mereka, yang sangat lurus, dan tak seorang pun melebihi mereka. Kemudian Allah membukakan padaku bukti-bukti tasawuf, keutamaannya mencerahkan jiwaku, dan aku berharap agar keselamatan ada pada orang yang mengakuinya, atau merias dengan perilakunya. Aku sangat yakin adanya pertolongan besar bagi yang mengamalkannya, dan aku pun melihat adanya pelencengan pandangan bagi yang menentangnya. Aku juga melihat adanya kotoran yang mengerak pada hati yang menentang tasawuf, dan terlihat pula adanya argumentasi yang luhur bagi yang memahaminya. Bahkan kemudian, aku mewajibkan diriku untuk mengamalkannya. Aku meyakininya dalam akidah rahasia batinku, dan meliputinya pada kedalaman rasaku, bahkan kujadikan tasawuf itu sebagai asas agamaku, dimana aku bangun amal-amalku, lalu di bangunan itu aku mondar-mandir dengan perilaku hatiku…….”

(Dari berbagai sumber)

Iklan

Read Full Post »

Selamat Datang

Selamat Datang di BLOG kami.

Welcome back to Our BLOG….

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::: 

Kepada Para Sahabat yang telah selesai melangit (Mujahadah & Suluk):

 Selamat datang kembali ke bumi. Kami ucapkan selamat menempuh hidup baru.

 Jangan lupa doakan kita semua yang masih di bumi. Semoga Sukses.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Read Full Post »

Download Biografi lengkap : Biografi Syaikh Nachrawi.pdf

  Syaikh Nachrawi

K.H.R. Nachrawi  adalah putra pertama dari pasangan K.H. Abdullah dan Ibu Sulimah. Ia lahir di sebuah kampung yang jauh dari hiruk pikuk serta keramaian kota, tepatnya di kampung Terasan, Bandongan, Magelang, Karisidenan Kedu, Jawa Tengah pada tahun 1320 H/1900 M. Ia dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang religius yang begitu taat menjalankan ajaran agama. Ayahnya, K.H.  Abdullah, selain dikenal sebagai Mursyid Tarekat Syadzili di desa Terasan, Bandongan, Magelang juga pengasuh pondok pesantren. Ia dikenal sebagai penggerak pembangunan masjid-masjid untuk mengembangkan agama Islam. Selain itu ia adalah tokoh agama yang sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat sekitarnya  karena pribadinya yang baik  dan memiliki pergaulan yang luas dengan masyarakat.

K.H.R. Nachrawi merupakan seseorang yang terlahir dengan sosok cerdas atau biji yang baik dan hidup serta dibesarkan dengan pendidikan orang tuanya dalam lingkungan perjuangan penyebaran agama Islam dengan mendirikan masjid-masjid yang memang membentuk kepribadianya sebagai pejuang dan mendukung kemajuan keilmuan agamanya. Dia termasuk keturunan orang-orang pilihan, yakni dari kalangan keluarga terhormat dan turunan para kyai serta para Sayyid, juga masih keturunan ningrat atau darah biru dari Kerajaan Majapahit hingga Kerajaan Mataram. K.H.R.Nachrawi adalah putra K.H. Abdullah putra K Hambali putra K.R. Muhammad Gozali putra R. Ay. Muso putra R. Pangeran Hangabehi atau yang lebih dikenal dengan Kyai Nur Iman/R..M. Ihsan putra  Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Jawa di Kartasura, yang bersambung hingga Brawijaya V Raja Majapahit VII.

Dalam mengembangkan kethariqatan dan merealisasikan ajaran agama ia mengembangkannya masuk melalui pendekatan budaya dan membangun masjid-masjid serta pendekatan kepada masyarakat di daerah tersebut yang ahli dalam bidang agama, kemudian mengangkatnya sebagai kyai di daerah tersebut, dan pembentukan pola pikir jamaah sekitar masjid itu, sehingga mempunyai budaya dan adat istiadat tersendiri, maka nilai-nilai keislaman secara bertahap dapat diterima oleh masyarakat. Disamping itu juga didukung oleh kemampuannya dalam memanifestasikan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam bentuk kesenian sebagai suatu yang disenangi dan merupakan bagian dari kebutuhan dalam menerima ajaran tersebut.

Read Full Post »

Silsilah Nasabiyah

Keterangan :

A = Silsilah Nasabiyah dari Rasulullah SAW

B = Silsilah Nasabiyah dari Raja Majapahit

Read Full Post »

Mazhab

Sumber: Wikipedia, dan 1001 Duka Himpunan Kisah-kisah Menyayat Hati Oleh Muhammad Isa Selamat, Darul Numan

Mazhab (bahasa Arab: مذهب, madzhab) adalah istilah dari bahasa Arab, yang berarti jalan yang dilalui dan dilewati, sesuatu yang menjadi tujuan seseorang baik konkrit maupun abstrak. Sesuatu dikatakan mazhab bagi seseorang jika cara atau jalan tersebut menjadi ciri khasnya. Menurut para ulama dan ahli agama Islam, yang dinamakan mazhab adalah metode (manhaj) yang dibentuk setelah melalui pemikiran dan penelitian, kemudian orang yang menjalaninya menjadikannya sebagai pedoman yang jelas batasan-batasannya, bagian-bagiannya, dibangun di atas prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah.[1]

Mazhab yang digunakan secara luas saat ini antara lain mazhab Hanafi, mazhab Maliki, mazhab Syafi’i dan mazhab Hambali dari kalangan Sunni. Sementara kalangan Syi’ah memiliki mazhab Ja’fari, Ismailiyah dan Zaidiyah.

Untuk kisah lain dari Ulama mazhab tersebut, bisa klik:

1. Imam Abu Hanifah

2. Imam Malik

3.Imam syafi’i

4.Imam Ahmad Hambal

Read Full Post »

Tarekat

Sumber: Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amud al-mizalah).

Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahan pertolongan dari guru.

Pengertian diatas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham tasawuf. Pengertian itu dapat ditemukan pada Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naqsyabandiyah, Tarekat Rifa’iah, Tarekat Samaniyah dll. Untuk di Indonesia ada juga yang menggunakan kata tarekat sebagai sebutan atau nama paham mistik yang dianutnya, dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan paham tasawuf yang semula atau dengan tarekat besar dan kenamaan. Misalnya Tarekat Sulaiman Gayam (Bogor), Tarekat Khalawatiah Yusuf (Sulawesi Selatan) boleh dikatakan hanya meminjam sebutannya saja.

Read Full Post »

Tarekat Naqsyabandie

Sumber: Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Tarekat Naqsyabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebaran nya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim serta Turki, Bosnia-Herzegovina, dan wilayah Volga Ural.

Bermula di Bukhara pada akhir abad ke-14, Naqsyabandiyah mulai menyebar ke daerah-daerah tetangga dunia Muslim dalam waktu seratus tahun. Perluasannya mendapat dorongan baru dengan munculnya cabang Mujaddidiyah, dinamai menurut nama Syekh Ahmad Sirhindi Mujaddidi Alf-i Tsani (“Pembaru Milenium kedua”). Pada akhir abad ke-18, nama ini hampir sinonim dengan tarekat tersebut di seluruh Asia Selatan, wilayah Utsmaniyah, dan sebagian besar Asia Tengah. Ciri yang menonjol dari Tarekat Naqsyabandiyah adalah diikutinya syari’at secara ketat, keseriusan dalam beribadah menyebabkan penolakan terhadap cara yang menggunakan musik dan tarian, serta lebih mengutamakan berdzikir dalam hati, dan kecenderungannya semakin kuat ke arah keterlibatan dalam politik (meskipun tidak konsisten).

Kata Naqsyabandiyah/Naqsyabandi/Naqshbandi نقشبندی berasal dari Bahasa Persia, diambil dari nama pendirinya yaitu Baha-ud-Din Naqshband Bukhari. Sebagian orang menerjemahkan kata tersebut sebagai “pembuat gambar”, “pembuat hiasan”. Sebagian lagi menerjemahkannya sebagai “Jalan Rantai”, atau “Rantai Emas”.

Read Full Post »

Older Posts »