Sumber: Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amud al-mizalah).
Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.
Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.
Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahan pertolongan dari guru.
Pengertian diatas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham tasawuf. Pengertian itu dapat ditemukan pada Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naqsyabandiyah, Tarekat Rifa’iah, Tarekat Samaniyah dll. Untuk di Indonesia ada juga yang menggunakan kata tarekat sebagai sebutan atau nama paham mistik yang dianutnya, dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan paham tasawuf yang semula atau dengan tarekat besar dan kenamaan. Misalnya Tarekat Sulaiman Gayam (Bogor), Tarekat Khalawatiah Yusuf (Sulawesi Selatan) boleh dikatakan hanya meminjam sebutannya saja.
Ass Wr Wb
saya mau tanya, aliran tarekat apa harus mereka yg ikut adalah mereka yang ahli syari’at, atau bisa langsung masuk….?
Wa’alaikum salam…
Pada prinsipnya, boleh tidaknya Sang Pencari diijinkan
untuk bertarekat, adalah atas seijin Guru Mursyidnya.
Dalam Naqsyabandie, sejak dulu hingga sekarang, setiap calon murid musti menjalankan mujahadah, sebagai latihan/persiapan sebelum bertarekat.
Diibaratkan mempersiapkan cangkir yang kokoh dan kuat,
sebelum diisi air dingin, hangat, atau panas.
Setelah mujahadah selesai, maka Guru Mursyid akan menentukan Seseorang tersebut layak bertarekat atau tidak.
Bila Kita ingin bertarekat, sebaiknya:
1. Sholat istikharoh, untuk memilih tarekat mana, Guru Mursyid yang mana yang akan dituju.
2. Memilih Tarekat. Masing2 tarekat memiliki kekhasan tersendiri…
Misalnya:
Bila Mas Agus suka berdzikr Jahr, bersuara, yang terkenal adalah Tarekan Qadiriyah, atau TQN….
Bila Mas Agus suka berdzikr Sirr, tersembunyi, hanya Allah yang tahu, maka Mas Agus Cocok dg Tarekat Naqsyabandie….
3. Memilih Guru Mursyid. Untuk bertarekat, kita harus berguru pada Guru Mursyid. Syaratnya, harus memiliki silsilah keguruan yang jelas sampai ke Rasulullah.
Mengenai Tarekat apa saja yang ada dan Guru Mursyid, bisa ditanyakan ke majlis Mutabarak Indonesia.
Salam,